AD (728x90)

_

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Jamaah Muhammadiyah, Mari Menyambut Gerhana Bulan Total di Bulan Dzulhijjah

Oleh: Saifuddin Zuhri (PW IPM Jawa Timur; Anggota Surabaya Astronomi Club)

Credit: langit selatan
Sang Pencerah - Fenomena langka gerhana bulan total akan terjadi di langit Indonesia beberapa hari setelah hari raya Idul Adha. Selain Indonesia wilayah yang akan bisa menyaksikan fenomena ini adalah Amerika Utara, Amerika Selatan, Samudra Pasifik, Negara-Negara Asia Timur, Australia.
Gerhana Bulan Total pada tanggal 8 Oktober 2014 (seri saros 127) merupakan fenomena alam yang terjadi ketika matahari, bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus di tata surya sehingga gerhana pasti terjadi ketika bulan pada fase oposisi (purnama). Sebelum puncak gerhana bulan total ini akan didahului dengan gerhana penumbra dan gerhana sebagian.

Bagi yang berada di wilayah Indonesia bagian barat (WIB), mulai gerhana bulan penumbra = 15.14 WIB; mulai gerhana sebagian = 16.14 WIB; mulai gerhana total = 17.24 WIB, puncak gerhana total = 17.54, gerhana sebagian berakhir = 18.24 WIB, gerhana sebagian berakhir = 19.34 WIB, gerhana penumbra berakhir = 20.35 WIB

Bagi yang berada di wilayah Indonesia bagian tengah (WITA), mulai gerhana bulan penumbra = 16.14 WIB; mulai gerhana sebagian = 17.14 WIB; mulai gerhana total = 18.24 WIB, puncak gerhana total = 18.54, gerhana sebagian berakhir = 19.24 WIB, gerhana sebagian berakhir = 20.34 WIB, gerhana penumbra berakhir = 21.35 WIB

Bagi yang berada di wilayah Indonesia bagian tengah (WIT), mulai gerhana bulan penumbra = 17.14 WIB; mulai gerhana sebagian = 18.14 WIB; mulai gerhana total = 19.24 WIB, puncak gerhana total = 19.54, gerhana sebagian berakhir = 20.24 WIB, gerhana sebagian berakhir = 20.34 WIB, gerhana penumbra berakhir = 22.35 WIB.
Credit: Eclipse NASA

Tuntunan Syar'i Gerhana Menurut Muhammadiyah.
Jamaah Muhammadiyah, jauhi tradisi adat yang berkenaan dengan gerhana yang tidak ada tuntunannya dalam Islam. Selain itu mari bersama-sama para jamaah untuk mendirikan sholat gerhana secara berjamaah di masjid-masjid terdekat. Kapan waktunya? menurut panduan hisab Muhamamdiyah (link download pedoman hisab muhammadiyah.pdf), sholat gerhana dilaksanakan saat gerhana berlangsung. Khusus di sebagian wilayah Indonesia karena awal gerhana bulan berlangsung saat bulan belum terbit (dibawah horizon), maka sholat bisa dilaksanakan ba'da maghrib.

Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan, gunakanlah teleskop dan binokuler untuk melihat bagaimana gerhana bulan sedang berlangsung. Lalu abadikan dan dokumentasikan moment gerhana tersebut berupa gambar atau video. Dan edukasilah para jamaah tentang bagaimana proses gerhana bulan total bisa terjadi secara sains dan ilmu astronomi sehingga para jamaah semakin mengenal akan tanda-tanda kekuasan Allah. Setuju?Wallahu'alam. (SP/zuhri)

Jumat, 19 September 2014

5 Makna Muhammadiyah Yang Harus Dipahami Seorang Kader



Menurut K.H. Suprapto Ibnu Juraemi (Alm)


Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik, dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.
Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan. Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga “ambisi” menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat. Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.
Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam? Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya “Beranikah kamu beragama Islam?”. Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, “Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu”. Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.

Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H.Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu pertanyaan. Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, “Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe” (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).
Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An’am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.

Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw. Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin. Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi, dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin, pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin. Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan ibadah. Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi adalah pengorbananku. Jadi, “shalatku, pengorbananku, hidup matiku, lillahi rabbil alamin”.
Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… “Sungguh, shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah”. Dalam terjemah Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang bisa tertegun, “Hanya karena untuk Allah rabbil alamin.” Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai Dahlan dengan terjemahan tafsir “itu tidak untuk selain Allah”. Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap sekutu. Lalu ayat tadi bermakna apa? “Shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta”. Laa syarikalah, tidak ada sekutu selain Allah. “Aku diperintah untuk hidup dengan model cara yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan tanah airku”. Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan. Hidupku tidak untuk itu. Pertanyaannya, lalu untuk apa? “Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan tanah air, tetapi karena Allah”. Di sini lalu maknanya, “berbuat baiklah kamu kepada orang tuamu”. Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua, tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata “wa-ahsinuu, …..birrul walidaini”. Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan “wa ana awwalul muslimin. Oo.., ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang lain.
Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yangnamanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya’buduun. Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain. Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah. Di situlah makna hakekat dari Islam.

Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup menjawab. Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye, jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir, yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput mobil.

Pertama, Bermuhammadiyah adalah berislam.
Ungkapan ini memang cukup tandas.Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan itu, “Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar fitnah”. Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal Rasululah.

Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalna haadzal qur’ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.

Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar, simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.

Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran, kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending, kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum’at Shubuh, Nabi selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada. Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak apalagi diamalkan.

Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal. Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap Islamnya.

Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat gado-gado. Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif, membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu, diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung menjadi satu, Pancasila.

Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam. Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.

Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam. Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji, itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi keluarga sakinah.

Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah, bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya, pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap masalah ini. Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis kalimat itu, hanya mendengar sepintas, “Hidup sepanjang kemauan Islam”.

Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari bermuhammadiyah itu.

Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja. Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma. Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi, tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua, warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.

Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang mengamalkan hal ini.

Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah
Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat mereka dalam “wa-tawashau bil haq”. Ada sebutan yang cukup populer pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang seperti itu disebut mubaligh cleleng.

Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan mengucap salam, “Selamat pagi, Pak!”. Beliau bertanya, “Kamu siapa?” “Saya mahasiswa Bapak”, katanya. “Kembali sana, ucapkan dulu “Assalamu’alaikum”. Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan “kulonuwun“. Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab, padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar Muzakkir sambil berkata, “Kibir kamu ya?” “Kenapa?” tanya orang itu. Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya mengucap salam “Assalamu’alaikum” kalau bertamu ke rumah orang koq malah “kulonuwun”. Inilah contohnya mubaligh cleleng.

Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut. Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil ’alamin dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.

Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab, “Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah bertabligh.

Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah. Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal diJogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa. Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, “Wong saya sendiri yang menyusun koq disuruh merubah”, kata Pak Usman. Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya, dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya kitab tauhid, “Al Ushulust-tsalasah”,30) ketika ajarannya diambil, mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka, yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti. Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.

Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.

Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid’ah. Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi. Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah melangkah lebih lanjut. Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini, selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang singkat.

Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu. Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa menjawab. Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo, Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?

Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain, adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat. Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden, terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di bidang pendidikan.

Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta. Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah. Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita ini termasuk sebagai pewaris falsafah “sendu” (seneng duit), merasa senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang senang terhadap duit. Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana pengaruh pendidikan Muhammadiyah.

Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya, belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.

Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi
Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran, sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu, organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga saja yang menjadi harapannya.

Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya. Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada saat lahirnya Muhammadiyah.

Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat Haji Wada’ jumlah jama’ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu. Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700 ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk surga sebelum Rasullah meninggal.

Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu. Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal uswah hasanah saja.

Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan, ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu. Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti. Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh, orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, “Pantas kalau Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah”. Orang itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan, yang berasal dari negeri Minangkabau.

Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya, Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang lalu. Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit, sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.

Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi. Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80 ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat. Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut, kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu, maka sisanya dikembalikan.

Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya, dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah tidak boleh seperti itu.

Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari 200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30 juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ, yang dikenal sebagai da’i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.

Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY, UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada sedikit yang berasal dari IPM/IRM. Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah, koq setelah sholat malah yasinan. Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?

Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling tidak selama tiga tahun mereka kita didik.

PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius. Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah” masih relevan? Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah. Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.

Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan, tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis dhoif. Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh pengorbanan beliau.

Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor, sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana, misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami Muhammadiyah tersebut. Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja. Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu, panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman beliau atas surat Al-Maun.

Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya, untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan, dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau tidak kita jadikan kader kita.
Keempat dan Kelima, Bermuhammadiyah adalah Berjuang dan Berjihad serta Berkorban. Yang keempat, bermuhammadiyah itu berjuang dan berjihad. Yang kelima, bermuhammadiyah adalah berkorban. Untuk dua hal yang terakhir ini belum sempat saya angkat. Sebenarnya mau saya sampaikan karena waktunya belum ada, maka saya minta maaf.
*) Transkrip Ceramah Ustadz Ibnu Juraimi dalam Pengajian
di PDM Temanggung Jawa Tengah.
Ditranskrip oleh Arief Budiman Ch.

Senin, 08 September 2014

Inilah 6 Tokoh Muhammadiyah Yang Dapat UMM Award

Malang- Enam tokoh Muhammadiyah akan menerima penghargaan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Para tokoh itu dinilai memiliki dedikasi yang luar biasa dalam menggerakkan dakwah Muhammadiyah di bidang pendidikan dan mengembangkan jaringan internasional. Penyerahan penghargaan yang diberi nama UMM Award untuk Tokoh Muhammadiyah itu akan diserahkan rektor UMM, Muhadjir Effendy, kepada keluarganya dalam acara wisuda, Sabtu (6/9) di UMM Dome.
Keenam sosok tersebut adalah (alm) KH Drs. Ahmad Azhar Basyir, MA; (alm) H Sudarsono Prodjokusumo; (alm) Drs. H Muh. Djazman Al-Kindi; (alm) dr. Muh. Suherman; (alm) Drs. H Sutrisno Muhdam dan (alm) Dr (Hc) HM Lukman Harun.“Lukman Harun merupakan tokoh yang membawa Muhammadiyah ke dunia internasional, sedangkan lima lainnya merupakan sosok yang konsisten merintis dan memperjuangkan perkembangan dunia pendidikan hingga berkembang seperti sekarang,” kata rektor. Untuk profil enam tokoh tersebut dapat dibaca di sini.
Rektor menyatakan di Muhammadiyah banyak tokoh yang telah memiliki kontribusi besar untuk bangsa. Peran mereka sudah banyak dikenal publik luas. Sementara banyak pula tokoh yang luar biasa tetapi kurang dikenal, terutama bagi generasi muda saat ini. Padahal role model dan teladan para tokoh itu sangat diperlukan. Itulah sebabnya UMM mengangkat kembali nama-nama enam tokoh itu, selain sebelumnya telah mengangkat dua nama sebagai nama masjid di kampus swasta terbesar ini, yakni masjid AR Fahruddin dan KH Bedjo Darmoleksono.
Pemberian UMM Award merupakan salah satu dari serangkaian peringatan Dies Natalis UMM ke-50. Selain tokoh Muhammadiyah, sebelumnya UMM juga menganugerahkan UMM Award untuk Tokoh Bangsa kepada (alm) Taufik Kiemas. Penghargaan itu telah diterima Presiden RI ke-5 yang juga istri almarhum, Megawati Sukarnoputri, Juni lalu. 
Dalam prosesi penyerahan penghargaan di UMM Dome, keluarga para tokoh akan menerima piagam UMM Award dan tali asih dari UMM. Mantan ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Syafii Maarif dijadwalkan memberikan testimoni tentang keenam tokoh. Guru besar sejarah itu tak hanya menyampaikan sejarah sepak terjang para tokoh tetapi juga menggali inspirasi dari mereka. BERIKUT profil singkat enam tokoh Muhammadiyah peraih UMM Award.

1. Dr (Hc) HM Lukman Harun
Lukman Harun lahir di Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 6 Mei 1934 dan menutup usia di Jakarta, 8 April 1999 pada umur 64 tahun. Selain sebagai tokoh Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai diplomat ulung dan aktivis Islam internasional. Di antaranya, Ia pernah menjabat sekretaris jenderal Asian Conference on Religion and Peace (ACRP).
Di penghujung Orde Lama, Lukman adalah aktivis yang cukup vokal mengganyang Partai Komunis Indonesia (PKI), di mana saat itu ia menjadi ketua pengerah massa Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu. Karena sejumlah kiprahnya itu, ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong mewakili Muhammadiyah pada 1967-1971.
Keterlibatan Lukman di Muhammadiyah membuat organisasi ini berkembang pesat dalam hal hubungan luar negeri. Hal itu lantaran Lukman sangat aktif menjalin lobi dengan kalangan internasional, terutama dunia Islam. Karena perannya, Muhammadiyah sering diundang menghadiri konferensi dunia untuk berbicara tentang perkembangan Islam. Saat dipimpin AR. Fakhruddin, Lukman adalahsatu-satunya orang yang selama sepuluh tahun menjadi juru bicara Muhammadiyah.

2. KH Drs Ahmad Azhar Basyir MA
Ahmad Azhar Basyir lahir di Yogyakarta, 21 November 1928 dan meninggal di kota yang sama pada 28 Juni 1994 di umur 65 tahun. Pada masa revolusi, Azhar Basyir bergabung dengan kesatuan TNI Hizbullah, Batalion 36 Yogyakarta. Tokoh kharismatik dan pejuang perang Sabil ini dikenal sebagai sosok perpaduan antara ulama dan intelektual. Azhar dikenal sederhana, namun memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang mendalam.
Berkat kelebihannya itu, Azhar dipercaya menjadi ketua Pemuda Muhammadiyah tatkala lembaga ini baru didirikan pada 1954. Jabatannya mendapat pengukuhan kembali pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Palembang tahun 1956. Tak lama setelah itu, Azhar mendapat beasiswa untuk belajar di Jurusan Sastra, Universitas Baghdad serta meraih gelar master di bidangIslamic Studies pada Universitas Kairo.
Sekembalinya di Indonesia, ia lantas menjadi dosen Universitas Gadjah Mada, menjadi pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) 1990-1995 serta anggota MPR-RI periode 1993-1998. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta tahun 1995, Azhar Basyir terpilih sebagai ketua Muhammadiyah menggantikan KH AR Fakhruddin. Azhar juga dipercaya memimpin lembaga fiqih Islam pada Organisasi Konferensi Islam (OKI).

3. Drs HS Prodjokusumo
Soedarsono Prodjokusumo lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 22 Agustus 1922 dan tutup usia di Jakarta, 31 Juli 1996. Pada 1950, ia mengikuti kursus administrasi militer padaNederlands Militerire Missie (NMM) di Bandung. Pada akhir 1952 ia ditugaskan di Kementerian Pertahanan RI sebagai Perwira Muda di Jakarta dan menetap di Kebayoran Baru. Di tempat itulah kiprahnya di Muhammadiyah sangat terlihat. Bersama orang-orang Betawi, Prodjokusumo mempelopori berdirinya Muhammadiyah Cabang Kebayoran Baru.
Perhatian Prodjokusumo pada pendidikan Muhammadiyah sangat besar. Pada 1957, ia menginisiasi kerjasama dengan Departemen Agama RI dalam pendirian Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang pada 1858 melebur menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Pada 1965 FKIP UMJ lantas berdiri sendiri dengan nama IKIP Muhammadiyah Jakarta, dan mulai 1997 dinamai Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka).
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, setelah Muktamar Muhammadiyah 1985 Prodjokusumo membentuk Dewan Pembina Perguruan Muhammadiyah. Selain di bidang pendidikan, ia juga pencetus berdirinya Ikatan Karyawan Muhammadiyah (IKM), Ikatan Seniman dan Budayawan (ISB) pada 1965. Ia juga mempelopori dibentuknya Unit Santunan Duka Kebayoran Baru serta Pembina Kesehatan Umat (PKU) Taman Puring.

4. Drs H Sutrisno Muhdam
Sutrisno Muhdam lahir di Klaten, Jawa Tengah, 14 Oktober 1938 dan menutup usianya di Yogyakarta, 12 Desember 2012. Ketokohan Sutrisno begitu kuat bukan saja karena pernah menduduki sejumlah jabatan penting di Muhammadiyah, melainkan juga karena ia merupakan saksi sejarah persyarikatan yang menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya.
Semasa kuliah di IKIP Muhammadiyah Jakarta (sekarang UHAMKA), Sutrisno menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia juga terlibat dalam pembentukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Ia merupakan ketua PP Pemuda Muhammadiyah selama dua periode, yaitu 1975-1980 dan 1980-1985. Ia juga masuk jajaran PP Muhammadiyah dalam rentang cukup panjang, yaitu mulai 1985 hingga 2000.
Sutrisno termasuk tokoh Muhammadiyah yang memelopori bergabungnya ABRI dalam pembentukan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) untuk melawan G.30.S PKI. Ia juga menjadi salah satu anggota Komite Reformasi sembilan tokoh Islam yang hadir memenuhi undangan Soeharto ke istana pada 18 Mei 1998 berkaitan dengan pernyataan pertama lengser dari presiden dan agenda reformasi. Pada 1997-1998, Sutrisno menjadi anggota MPR RI utusan golongan, dan pada 1998-2002 ia tercatat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung komisi Ekuin.

5. dr Muhammad Suherman
Muhammad Suherman lahir di Ngawi, 26 Desember 1926 dan menutup usia di Surabaya, 5 Maret 1987. Suherman bisa disebut sebagai salah satu legenda dalam sejarah Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim). Selain sebagai figur dokter yang dikenal merakyat, ia juga memiliki totalitas dalam memperjuangkan persyarikatan Muhammadiyah, khususnya dalam bidang pendidikan.
Sewaktu kuliah, Suherman merupakan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang disegani di Jatim. Selepas lulus kuliah dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) pada 1960, ia langsung didapuk sebagai dosen di almamaternya sekaligus membuka praktek dokter di Krian dan Surabaya. Selama menjadi dokter, ia mendapat julukan “dokter rakyat” karena dikenal sangat peduli pada pasien dari kalangan tidak mampu.
Totalitasnya terhadap persyarikatan mulai terlihat saat ia keluar dari PNS pada 1978 agar bisa aktif di Muhammadiyah. Padahal, saat itu ia tengah dipromosikan sebagai direktur pada salah satu unit di Unair. Di persyarikatan, ia berjasa besar dalam pendirian IKIP Muhammadiyah Surabaya pada 1981, demikian pula Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) pada 1985 di mana ia lantas menjadi rektornya.
Pada 1978-1985 Suherman menjabat wakil ketua II PWM Jatim yang membidani Majelis Pengajaran dan Kebudayaan (kini Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah). Semasa diberi amanah, perannya tampak sangat menonjol dalam pengembangan amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan. Saat itu ia juga bersinergi dengan Dr Mutadi sebagai wakil ketua III PWM yang membidani Majelis Pembinaan Kesejahteraan Umum (PKU). Sinergi dua dokter itu ditandai dengan berdirinya poliklinik Muhammadiyah di hampir seluruh kabupaten di Jawa Timur.

6. Drs HM Djazman Al-Kindi
Djazman Al-Kindi adalah salah satu tokoh kunci di balik berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada 1964. Sebelum berdirinya IMM, anak-anak muda Muhammadiyah yang berada dalam dunia perkuliahan masih tergabung dalam Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah.
Sejak 1961, Djazman yang saat itu kuliah di UGM bersama sejumlah tokoh-tokoh muda lainnya dari berbagai kampus menggulirkan gagasan agar melepaskan diri dari Pemuda Muhammadiyah dan membentuk organisasi sendiri. Gagasan tersebut lantas menuai hasil tiga tahun kemudian dengan berdirinya IMM.
Pada 1979, Djazman yang saat itu menjabat Rektor IKIP Muhammadiyah Surakarta memprakarsai berdirinya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan menggabungkan IKIP Muhammadiyah Surakarta dan Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Surakarta. UMS lantas resmi berdiri pada 1981 dengan turunnya SK dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Djazman juga menjadi aktor sejarah terbentuknya Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (MPTPP) PP Muhammadiyah pada 1986. Semula, majelis itu bernama Majelis Pendidikan dan Pengajaran (MPP). Namun, mengingat Perguruan Tinggi Muhammadiyah saat itu terus berkembang pesat, maka namanya berubah menjadi MPTPP di mana Djazman mejadi ketuanya di periode pertama, yaitu pada 1986-1990.

Jumat, 04 Juli 2014

Jadwal Lengkap Imsakiyah Ramadhan 1435 H Se-Indonesia


PP Muhammadiyah telah menetapkan bahwa Ramadhan 1435 H akan tiba pada tanggal 27 Juni petang, sehingga puasa akan dimulai pada Sabtu, 28 Juni 2014. Ustadz Oman Fathurahman SW dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah telah menyusun jadwal imsakiyah berdasarkan metode hisab yang beliau lakukan.

Jadwal tersebut telah dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah edisi 10/99/16 Rajab – 1 Sya’ban 1435 H, atau edisi 16-31 Mei 2014. Berikut adalah jadwal imsakiyah ramadhan 1435 H yang bisa Anda download dalam format PDF lebih kecil.

Format PDF

Sumber: Majalah Suara Muhammadiyah

 

© 1435 H | 2014 M. Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur - Created by PIP IPM Jawa Timur