AD (728x90)

_

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Januari 2014

Kisah Buya HAMKA : " Maka Pecahlah Muhammadiyah ? "

Kaum Muda Muhammadiyah tengah menebak – nebak, apa yang terjadi jika kedua tokoh Muhammadiyah itu saling berhadapan. Siapa lebih tangguh? siapa lebih banyak pendukung, dan bagaimana sidang Tanwir nanti berjalan?

Kedua tokoh yang saling berhadapan itu ialah Buya Hamka dan K.H. Farid Ma’ruf. “kami yang muda–muda tidak sabar kedatangan sidang tanwir itu. Kami sangat antusias untuk menyaksikan kedua tokoh itu berdebat di atas mimbar. Tak sabar seperti menanti pertarungan antara Muhammad Ali melawan Joe Frazier,“ kenangan pak Djarnawi dalam tulisan menyambut 70 tahun Buya Hamka yang menjadi sumber tulisan ini.

Ketegangan memang terasa di kalangan Muhammadiyah. Terutama pada tingkat pimpinan. Bukan hanya tegang, Pak Djarnawi melukiskan, “pada tahun 1960, terjadi kehebohan di Muhammadiyah“. Penyebabanya, pak Moelyadi Djoyomartono diangkat Bung Karno sebagai menteri sosial. Padahal, hubungan Muhammadiyah dengan Bung Karno sedang Memburuk menyusul pembubaran Masyumi.

Terjadi Pro Kontra. Yang mendukung pak Moelyadi sebagai mensos adalah pak Farid Ma’ruf. Beliau punya alasan, semua untuk Muhammadiyah, bukan untuk diri sendiri. Yang tidak setuju menganggap, menerima jabatan itu berarti Muhammadiyah bertekuk lutut di kaki Soekarno.

Terjadi ketegangan yang merata dari Pusat sampai Daerah. Dalam suasana ini, lahirlah rumusan kepribadian Muhammadiyah. Ini muncuk dari kegelisahan Fakih Usman terjadi ketidakharmonisan saat itu. Puncaknya, Hamka menulis di harian Abadi berjudul, Maka pecahlah Muhammadiyah. Hamka menyatakan, ada dua golongan dalam Pimpinan Pusat yaitu golongan istana dan luar istana. Hamka menyebut Farid Ma’ruf sebagai golongan istana karena selalu berusaha membawa Muhammadiyah ke Istana. Pengaruh tulisan Hamka sangat besar. Sebab, beliau tokoh Muhammadiyah, mubalig kenamaan, dan pengarang terkenal. Apalagi harian abadi saat itu tercatat sebagai Koran besar yang beredar sampai kepelosok tanah air. Buntutnya, sebagian besar orang Muhammadiyah menyudutkan Farid Ma’ruf dan Moelyadi.

Dalam sidang tanwir di Gedoeng Muhammadiyah Yogyakarta, Hamka dipersilahkan tampil ke mimbar lebih dulu untuk menjelaskan tulisannya di harian abadi, sekaligus sebagai pertanggungjawaban. Semua menunggu. Hamka berdiri tenang. Wajah dan matanya berbicara lebih dulu dari pada bibirnya. Tiba – tiba, pelupuk mata Hamka penuh air mata.

Dengan suara tersendat, Hamka mengakui bahwa jika perasaannya tersentuh segera tangannya mencari pulpen lalu menulis. Semua yang di tulis di harian Abadi bermaksud baik, didorong cintanya pada Muhammadiyah. Namun, jika tulisan itu menyinggung perasaan Farid Ma’ruf yang sangat dicintainya, Hamka menyatakan sangat menyesal, mohon ampun dan maaf kepada Farid Ma’ruf.

Giliran Farid Ma’ruf tampil. Ia kemimbar dengan membawa map berisi berkas – berkas sebagai pertahanan karena mengira Hamka akan menyerangnya bertubi–tubi. Dia juga siap memberi serangan balasan. Di mimbar, Farid lama terdiam. Sikap Hamka sama sekali tidak diduganya. Tidak menyerang, malah minta ampun kepadanya di depan umum. Map yang dibawa akhirnya tidak dibuka.

Dengan suara datar dan wajah tenang. Farid menyatakan, kesediaan pak Moel menerima jabatan Mensos adalah dengan niat baik demi Muhammadiyah, yaitu membantu amal sosial Muhammadiyah. Menurut Farid, kondisi sekarang masih tetap diperlukan kerja sama Muhammadiyah dengan Pemerintah. Perbedaan antara dia dengan Hamka sama–sama didorong niat baik. Jika pendirianya dinyatakan salah dan dikhawatirkan membawa Muhammadiyah ke Istana, Farid berujar, “maka dengan ikhlas saya mengundurkan diri dari Pimpinan Pusat ….”

Belum lagi kalimat Farid selesai, Hamka berdiri dan mengacungkan tangan. “ Pimpinan!”, serunya, “Jangan saudara Farid mundur. Kita sangat membutuhkan dia. Saya, Hamka yang harus mundur….”.

Mendengar itu, Farid menghentikan pidatonya. Ia lalu turun menuju Hamka. Hamka pun menyongsong Farid. Keduanya lalu berpelukan dengan air mata bercucuran. Semua tertengun. Lalu menyusul ucapan hamdalah, tepuk tangan, dan ada yang bertakbir.

Persoalan selesai. Siaing tanwir terus berjalan membicarakan agenda lain. Setelah itu muncul berita di harian abadi berjudul, Muhammadiyah Tidak Pecah!.

Alangkah indahnya dinamika dalam Muhammadiyah yang dicontohkan para pendahulu. Sesunggunhnya, perbedaan pendapat selalu ada. Yang berbeda cara menyikapinya. Dulu, diselesaikan dengan sikap dewasa, dengan ikhlas hati, tidak mengedepankan harga diri.

Rukun dan damai dalam keindahan itu tidak sulit asal ada kemauan, begitu kata Al–Qur’an 
“Jika keduanya menghendaki kerukunan, Allah akan membukakan jalan kepada mereka”. (Qs. An-Nisa’[4] : 35

source : sangpencerah.com

Senin, 14 Oktober 2013

Story Of Idul Adha

Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam. Berikut ini akan saya jelaskan sejarah singkat dari pelaksanaan Hari Raya Idul Adha.
Nabi Ibrahim as, melaksanakan perintah ilahi itu dengan tulus, namun Allah berkehendak lain. Perintah ilahi berikutnya datang dan Ibrahim diperintah untuk melepaskan Ismail dan menyembelih seeokor binatang kurban yang telah dipersiapkan oleh Allah sebagai gantinya. Pada hari itu diperingati peristiwa kurban

Peristiwa yang terjadi di masa lalu itu adalah kisah penuh pelajaran. Kisah kepasrahan mutlak dan ketundukan penuh kepada kehendak Allah. Karena itu kisah tersebut diabadikan oleh Allah dalam syariat yang diturunkan-Nya berupa berbagai manasik haji. Dalam syariat Islam tanggal 10 Dzulhijjah diperingati sebagai Hari Raya Idul Adha yang berarti hari raya kurban.
Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan shalat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah shalat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Hari Raya Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim. Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.
Pada hari ini, jemaah haji yang melaksanakan ibadah haji bergerak menuju Mina setelah melakukan wukuf di padang Arafah dan mabit di Muzdalifah. Di Mina, mereka melakasanakan lempar Jumrah Aqabah lalu menyembelih binatang kurban. Semua itu dilakukan mengikuti jejak Nabi Ibrahim as yang menyembelih binatang kurban setelah beliau berhasil melewati ujian terberat dengan perintah Allah untuk menyembelih anaknya yang tercinta, Ismailas.
 
Sumber : www.kumpulansejarah.com

Selasa, 01 Oktober 2013

Hari Batik Nasional, Napak Tilas Batik di Jawa Timur


Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Bisa dikatakan perkembangan batik berasal dari Jawa Timur (Majapahit adalah kerajaan besar di Jawa Timur). “Namun dalam beberapa catatan, pengembangan batik m).Ilai dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram (Jawa Tengah), yang meruntuhkan Kerajaan Majapahit, kemudian pada masa Kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal di luar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing. Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh ibu-ibu tetangga dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita, ibu rumah tangga, untuk mengisi waktu senggang.
Seni batik meluas menjadi milik rakyat Indonesia, terutama Jawa, setelah akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar 1920. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pergerakan Muslim yang juga pedangang batik untuk melawan perekonomian Belanda.

Maka tidak heran jika potensi kerajinan batik di Jawa Timur menyebar di seluruh kabupaten kota. Hampir seluruh daerah Jawa Timur ditemukan sentra kerajinan batik meski hanya skala kecil. Batik yang diproduksi oleh sentra-sentra industri di Jawa Timur ini memiliki ciri khas masing-masing yang seeara kasat mata bisa dibedakan. Umumnya masing-masing pengrajin menampilkan motif alam sekitarnya.
Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit, maka batik berkembang di sini. Batik juga berkembang di Tulungagung sebagai daerah pengembangan Kerajaan Majapahit saat itu. Tulungagung yang sebagian wilayahnya rawa-rawa (Bonorowo), saat itu dikuasai oleh Adipati Kalang, yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Majapahit.

Daerah pembatikan di Mojokerto sekarang terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Di luar Kabupaten Mojokerto, batik juga ditemukan di Jombang.

Waktu krisis ekonomi 1930an, pengusaha batik Mojokerto ikut lumpuh. Pengusaha-pengusaha batik di Sidoarjo, yang kebanyakan rumahan, bangkrut. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi saat Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.
Mojokerto sebelumnya dikenal dengan batik Kalangbret, yang coraknya hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta: dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Tempat pembatikan yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu di Mojokerto adalah Desa Majan dan Simo. Batik Majan juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan zaman peperangan Pangeran Diponegoro 1825. Warna babaran batik Majan dan Simo dikenal unik, merah menyala (yang diperoleh dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom.

Daerah Ponorogo pada awal abad XX juga dikenal sebagai daerah batik yang dalam pewarnaannya menggunakan nila yang tidak luntur. Akibat batik cap kasar diproduksi secara missal yang dikenal dengan batik cap mori biru, pasaran batik cap kasar Ponorogo terkenal seluruh Indonesia.
Mojokerto, Jombang, Tulungagung, dan Ponorogo yang tidak begitu dikenal dalam peta industri batik, sampai sekarang masih ada sisa jejak kerajinan batik. Batik masih berkembang di Sidoarjo, Madura, Tuban, Blitar, Banyuwangi dan daerah-daerah lainnya.

Batik Madura, memiliki cirri khas dengan motif batik pantai dengan warna cenderung gelap, merah gelap, bahkan dipadukan dengan warna hitam yang merupakan warna yang disukai oleh masyarakat Madura.
Batik Sidoarjo menampilkan motif udang dan ikan serta dedaunan, tapi juga menampilkan warna gelap. Sementara batik Surabaya lebih mengarah pada motif bebas imprisonis meski tetap natural dengan warna-warna terang, abu-abu atau coklat cerah.

Demikian juga Kota Malang, Jawa Timur, juga tidak mau ketinggalan dalam usaha pelestarian batik. Batik yang diproduksi para pembatik di kota pendidikan itu memiliki ciri khas yang berbeda dengan daerah lain. “Motifnya juga tidak jauh-jauh dengan lambang Kota Malang, cerabut ‘rambut singa’ kata penggagas batik di Kota Malang Ny. Heri Peni Suparto.

Selain rambut singa yang menjadi identitas Batik Malangan, tugu Kota Malang yang menjadi lambang kota tersebut juga tidak boleh ditinggalkan. Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait di Jawa Timur, namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata. Tidak salah jika perkembangan batik di Mojokerto dan Tulungagung pada masa kemudian lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.
“Perkembangan batik di Jawa Timur cenderung lambat, namun bukan berarti tidak berkembang”, kata Zainal.

Diketahui, batik-batik produk Jawa Timur, terutama Madura, masuk ke pasar luar negeri melalui pengusaha batik dari Yogyakarta.
Batik yang sempat diklaim milik negara lain kini mulai kembali kembali menjadi milik masyarakat Indonesia sepenuhnya, setelah pada 2 Oktober 2009 diakui secara resmi oleh UNESCO yang menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi (masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity). Pengakuan Unesco itu ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari batik nasional yang kembali membangkitkan semangat nasionalisme dan ekonomi para pengusaha batik di Indonesia.

Perkembangan batik di berbagai wilayah kabupaten/kota di Jawa Timur saat ini cukup signifikan. Ini ditandai dengan bermunculnya industri skala ini kro kecil maupun skala rumah tangga yang terus menghasilkan produk dengan motif dan pewarnaan khas yang dipengaruhi oleh karakter daerah masing-masing.

Source From : jawatimuran.wordpress.com

Selasa, 13 Maret 2012

Sejarah Muhammadiyah di Ponorogo

Ponorogo - Pada tahun 1922 Muhammadiyah berdiri di Ponorogo. Jauh sebelum berdirinya Muhammadiyah di tempat ini, telah terjadi proses interaksi dua pihak antara. Di Ponorogo, hadir dua orang pendatang, yaitu mubaligh dari Solo bersama Kyai Bisri dan seorang pedagang dari Jogjakarta bernama Turki, yang sering sholat di langgar wetan pasar. Keduanya memberi informasi tentang adanya organisasi di Muhamamdiyah yang dipimpin oleh KH Ahmad Dahlan di Jogjakarta. Informasi ini menarik perhatian Kasan Muhammad dan dua orang pemuda asli Ponorogo bernama Kasro Diwiryo (menantu Kasan Muhamamd) dan Ali Diwiryo. Pada 1922, KH Ahmad Dahlan berkunjung ke Ponorogo atas undangan CSI. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kasan Muhammad dan kedua orang pemuda aktivis pengajian pemuda 'wetan pasar' itu. Mereka berkeinginan untuk mendalami seluk beluk mendirikan Muhammadiyah. Akhirnya mereka mengutus Karyo Diwiryo menemui KH Ahmad Dahlan di Jogjakarta.
KH Ahmad Dahlan memberi petunjuk dan syarat-syarat untuk mendirikan sebuah ranting Muhammadiyah. Kedua pemuda itu bekerja keras untuk mengumpulkan orang-orang yang sepaham, paling tidak ada 20 orang, dan kemudian mereka memilih tujuh orang untuk menjadi pengurus. Muhamamdiyah Ponorogo akhirnya resmi berdiri pada 22 Februari 1922 dengan surat keputusan dari hoofdbestuur Muhamamdiyah No.22/1922. Selanjutnya pada 1927 Ranting Muhamamdiyah Ponorogo berubah status menjadi cabang, berdasarkan Surat Keputusan Hoofdbestuur Muhammadiyah No.087/PD/68-71.
Dari uraian diatas, para tokoh yang berusaha keras untuk mendirikan Muhammadiyah di Surabaya, Kepanjen, Blitar, Sumberpucung dan Ponorogo pada 1921 dan 1922, dapat disebut sebagai perintis (as-sabiqunal awwalun)  berdirinya Muhamamdiyah di Jawa Timur.
[diambil dari buku Menembus Benteng Tradisi Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004]

 

© 1435 H | 2014 M. Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur - Created by PIP IPM Jawa Timur