AD (728x90)

_

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 September 2014

Inilah 6 Tokoh Muhammadiyah Yang Dapat UMM Award

Malang- Enam tokoh Muhammadiyah akan menerima penghargaan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Para tokoh itu dinilai memiliki dedikasi yang luar biasa dalam menggerakkan dakwah Muhammadiyah di bidang pendidikan dan mengembangkan jaringan internasional. Penyerahan penghargaan yang diberi nama UMM Award untuk Tokoh Muhammadiyah itu akan diserahkan rektor UMM, Muhadjir Effendy, kepada keluarganya dalam acara wisuda, Sabtu (6/9) di UMM Dome.
Keenam sosok tersebut adalah (alm) KH Drs. Ahmad Azhar Basyir, MA; (alm) H Sudarsono Prodjokusumo; (alm) Drs. H Muh. Djazman Al-Kindi; (alm) dr. Muh. Suherman; (alm) Drs. H Sutrisno Muhdam dan (alm) Dr (Hc) HM Lukman Harun.“Lukman Harun merupakan tokoh yang membawa Muhammadiyah ke dunia internasional, sedangkan lima lainnya merupakan sosok yang konsisten merintis dan memperjuangkan perkembangan dunia pendidikan hingga berkembang seperti sekarang,” kata rektor. Untuk profil enam tokoh tersebut dapat dibaca di sini.
Rektor menyatakan di Muhammadiyah banyak tokoh yang telah memiliki kontribusi besar untuk bangsa. Peran mereka sudah banyak dikenal publik luas. Sementara banyak pula tokoh yang luar biasa tetapi kurang dikenal, terutama bagi generasi muda saat ini. Padahal role model dan teladan para tokoh itu sangat diperlukan. Itulah sebabnya UMM mengangkat kembali nama-nama enam tokoh itu, selain sebelumnya telah mengangkat dua nama sebagai nama masjid di kampus swasta terbesar ini, yakni masjid AR Fahruddin dan KH Bedjo Darmoleksono.
Pemberian UMM Award merupakan salah satu dari serangkaian peringatan Dies Natalis UMM ke-50. Selain tokoh Muhammadiyah, sebelumnya UMM juga menganugerahkan UMM Award untuk Tokoh Bangsa kepada (alm) Taufik Kiemas. Penghargaan itu telah diterima Presiden RI ke-5 yang juga istri almarhum, Megawati Sukarnoputri, Juni lalu. 
Dalam prosesi penyerahan penghargaan di UMM Dome, keluarga para tokoh akan menerima piagam UMM Award dan tali asih dari UMM. Mantan ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Syafii Maarif dijadwalkan memberikan testimoni tentang keenam tokoh. Guru besar sejarah itu tak hanya menyampaikan sejarah sepak terjang para tokoh tetapi juga menggali inspirasi dari mereka. BERIKUT profil singkat enam tokoh Muhammadiyah peraih UMM Award.

1. Dr (Hc) HM Lukman Harun
Lukman Harun lahir di Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 6 Mei 1934 dan menutup usia di Jakarta, 8 April 1999 pada umur 64 tahun. Selain sebagai tokoh Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai diplomat ulung dan aktivis Islam internasional. Di antaranya, Ia pernah menjabat sekretaris jenderal Asian Conference on Religion and Peace (ACRP).
Di penghujung Orde Lama, Lukman adalah aktivis yang cukup vokal mengganyang Partai Komunis Indonesia (PKI), di mana saat itu ia menjadi ketua pengerah massa Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu. Karena sejumlah kiprahnya itu, ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong mewakili Muhammadiyah pada 1967-1971.
Keterlibatan Lukman di Muhammadiyah membuat organisasi ini berkembang pesat dalam hal hubungan luar negeri. Hal itu lantaran Lukman sangat aktif menjalin lobi dengan kalangan internasional, terutama dunia Islam. Karena perannya, Muhammadiyah sering diundang menghadiri konferensi dunia untuk berbicara tentang perkembangan Islam. Saat dipimpin AR. Fakhruddin, Lukman adalahsatu-satunya orang yang selama sepuluh tahun menjadi juru bicara Muhammadiyah.

2. KH Drs Ahmad Azhar Basyir MA
Ahmad Azhar Basyir lahir di Yogyakarta, 21 November 1928 dan meninggal di kota yang sama pada 28 Juni 1994 di umur 65 tahun. Pada masa revolusi, Azhar Basyir bergabung dengan kesatuan TNI Hizbullah, Batalion 36 Yogyakarta. Tokoh kharismatik dan pejuang perang Sabil ini dikenal sebagai sosok perpaduan antara ulama dan intelektual. Azhar dikenal sederhana, namun memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang mendalam.
Berkat kelebihannya itu, Azhar dipercaya menjadi ketua Pemuda Muhammadiyah tatkala lembaga ini baru didirikan pada 1954. Jabatannya mendapat pengukuhan kembali pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Palembang tahun 1956. Tak lama setelah itu, Azhar mendapat beasiswa untuk belajar di Jurusan Sastra, Universitas Baghdad serta meraih gelar master di bidangIslamic Studies pada Universitas Kairo.
Sekembalinya di Indonesia, ia lantas menjadi dosen Universitas Gadjah Mada, menjadi pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) 1990-1995 serta anggota MPR-RI periode 1993-1998. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta tahun 1995, Azhar Basyir terpilih sebagai ketua Muhammadiyah menggantikan KH AR Fakhruddin. Azhar juga dipercaya memimpin lembaga fiqih Islam pada Organisasi Konferensi Islam (OKI).

3. Drs HS Prodjokusumo
Soedarsono Prodjokusumo lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 22 Agustus 1922 dan tutup usia di Jakarta, 31 Juli 1996. Pada 1950, ia mengikuti kursus administrasi militer padaNederlands Militerire Missie (NMM) di Bandung. Pada akhir 1952 ia ditugaskan di Kementerian Pertahanan RI sebagai Perwira Muda di Jakarta dan menetap di Kebayoran Baru. Di tempat itulah kiprahnya di Muhammadiyah sangat terlihat. Bersama orang-orang Betawi, Prodjokusumo mempelopori berdirinya Muhammadiyah Cabang Kebayoran Baru.
Perhatian Prodjokusumo pada pendidikan Muhammadiyah sangat besar. Pada 1957, ia menginisiasi kerjasama dengan Departemen Agama RI dalam pendirian Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang pada 1858 melebur menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Pada 1965 FKIP UMJ lantas berdiri sendiri dengan nama IKIP Muhammadiyah Jakarta, dan mulai 1997 dinamai Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka).
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, setelah Muktamar Muhammadiyah 1985 Prodjokusumo membentuk Dewan Pembina Perguruan Muhammadiyah. Selain di bidang pendidikan, ia juga pencetus berdirinya Ikatan Karyawan Muhammadiyah (IKM), Ikatan Seniman dan Budayawan (ISB) pada 1965. Ia juga mempelopori dibentuknya Unit Santunan Duka Kebayoran Baru serta Pembina Kesehatan Umat (PKU) Taman Puring.

4. Drs H Sutrisno Muhdam
Sutrisno Muhdam lahir di Klaten, Jawa Tengah, 14 Oktober 1938 dan menutup usianya di Yogyakarta, 12 Desember 2012. Ketokohan Sutrisno begitu kuat bukan saja karena pernah menduduki sejumlah jabatan penting di Muhammadiyah, melainkan juga karena ia merupakan saksi sejarah persyarikatan yang menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya.
Semasa kuliah di IKIP Muhammadiyah Jakarta (sekarang UHAMKA), Sutrisno menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia juga terlibat dalam pembentukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Ia merupakan ketua PP Pemuda Muhammadiyah selama dua periode, yaitu 1975-1980 dan 1980-1985. Ia juga masuk jajaran PP Muhammadiyah dalam rentang cukup panjang, yaitu mulai 1985 hingga 2000.
Sutrisno termasuk tokoh Muhammadiyah yang memelopori bergabungnya ABRI dalam pembentukan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) untuk melawan G.30.S PKI. Ia juga menjadi salah satu anggota Komite Reformasi sembilan tokoh Islam yang hadir memenuhi undangan Soeharto ke istana pada 18 Mei 1998 berkaitan dengan pernyataan pertama lengser dari presiden dan agenda reformasi. Pada 1997-1998, Sutrisno menjadi anggota MPR RI utusan golongan, dan pada 1998-2002 ia tercatat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung komisi Ekuin.

5. dr Muhammad Suherman
Muhammad Suherman lahir di Ngawi, 26 Desember 1926 dan menutup usia di Surabaya, 5 Maret 1987. Suherman bisa disebut sebagai salah satu legenda dalam sejarah Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim). Selain sebagai figur dokter yang dikenal merakyat, ia juga memiliki totalitas dalam memperjuangkan persyarikatan Muhammadiyah, khususnya dalam bidang pendidikan.
Sewaktu kuliah, Suherman merupakan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang disegani di Jatim. Selepas lulus kuliah dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) pada 1960, ia langsung didapuk sebagai dosen di almamaternya sekaligus membuka praktek dokter di Krian dan Surabaya. Selama menjadi dokter, ia mendapat julukan “dokter rakyat” karena dikenal sangat peduli pada pasien dari kalangan tidak mampu.
Totalitasnya terhadap persyarikatan mulai terlihat saat ia keluar dari PNS pada 1978 agar bisa aktif di Muhammadiyah. Padahal, saat itu ia tengah dipromosikan sebagai direktur pada salah satu unit di Unair. Di persyarikatan, ia berjasa besar dalam pendirian IKIP Muhammadiyah Surabaya pada 1981, demikian pula Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) pada 1985 di mana ia lantas menjadi rektornya.
Pada 1978-1985 Suherman menjabat wakil ketua II PWM Jatim yang membidani Majelis Pengajaran dan Kebudayaan (kini Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah). Semasa diberi amanah, perannya tampak sangat menonjol dalam pengembangan amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan. Saat itu ia juga bersinergi dengan Dr Mutadi sebagai wakil ketua III PWM yang membidani Majelis Pembinaan Kesejahteraan Umum (PKU). Sinergi dua dokter itu ditandai dengan berdirinya poliklinik Muhammadiyah di hampir seluruh kabupaten di Jawa Timur.

6. Drs HM Djazman Al-Kindi
Djazman Al-Kindi adalah salah satu tokoh kunci di balik berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada 1964. Sebelum berdirinya IMM, anak-anak muda Muhammadiyah yang berada dalam dunia perkuliahan masih tergabung dalam Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah.
Sejak 1961, Djazman yang saat itu kuliah di UGM bersama sejumlah tokoh-tokoh muda lainnya dari berbagai kampus menggulirkan gagasan agar melepaskan diri dari Pemuda Muhammadiyah dan membentuk organisasi sendiri. Gagasan tersebut lantas menuai hasil tiga tahun kemudian dengan berdirinya IMM.
Pada 1979, Djazman yang saat itu menjabat Rektor IKIP Muhammadiyah Surakarta memprakarsai berdirinya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan menggabungkan IKIP Muhammadiyah Surakarta dan Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Surakarta. UMS lantas resmi berdiri pada 1981 dengan turunnya SK dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Djazman juga menjadi aktor sejarah terbentuknya Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (MPTPP) PP Muhammadiyah pada 1986. Semula, majelis itu bernama Majelis Pendidikan dan Pengajaran (MPP). Namun, mengingat Perguruan Tinggi Muhammadiyah saat itu terus berkembang pesat, maka namanya berubah menjadi MPTPP di mana Djazman mejadi ketuanya di periode pertama, yaitu pada 1986-1990.

Senin, 21 April 2014

Nyai Dahlan, Kartini Indonesia Yang Sebenarnya


Iki lho,,.Kartini tenanan,,
berjuang lewat Sopo Tresno, bekerja sesuai porsinya,, dan tidak melangkahi kodrat nya,,

Sopo Tresno dan Aisyiyah.

Pada tahun 1914 ia mendirikan Sopo Tresno, dia dan suaminya bergantian memimpin kelompok tersebut dalam membaca Al Qur'an dan mendiskusikan maknanya.  Segera ia mulai berfokus pada ayat-ayat Al Qur'an yang membahas isu-isu perempuan. Dengan mengajarkan membaca dan menulis melalui Sopo Tresno. Pasangan ini memperlambat Kristenisasi di Jawa melalui sekolah yang disponsori oleh pemerintah kolonial.

Bersama suami dan beberapa pemimpin Muhammadiyah lainnya, Nyai Ahmad Dahlan membahas peresmian Sopo Tresno sebagai kelompok perempuan. Menolak proposal pertama, "Fatimah", mereka memutuskan mengganti nama menjadi "Aisyiyah" , berasal dari nama isteri Nabi Muhammad , yakni Aisyah . Kelompok baru ini, diresmikan pada tanggal 22 April 1917, dengan Nyai Ahmad Dahlan sebagai kepala.

Lima tahun kemudian organisasi menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Melalui Aisyiyah, Nyai Ahmad Dahlan mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan, Dia juga berdakwah menentang kawin paksa. Dia juga mengunjungi cabang-cabang di seluruh Jawa. Berbeda dengan tradisi masyarakat Jawa yang patriarki, Nyai Ahmad Dahlan berpendapat bahwa perempuan DIMAKSUDKAN UNTUK MENJADI MITRA SUAMI MEREKA.

Sekolah Aisyiyah dipengaruhi oleh ideologi pendidikan Ahmad Dahlan yakni Catur Pusat: 
* pendidikan di rumah,
* pendidikan di sekolah, 
* pendidikan di masyarakat, 
* dan pendidikan di tempat-tempat ibadah.
Source : www.sangpencerah.com

Selasa, 14 Januari 2014

Foto di Balik Sampul Buku Iqro', Siapakah dia??

Buku iqro sewaktu Anda kecil, ada cover pengarangnya, siapakah dia? Semoga pahala terus mengalir untuknya, karena berkat buku iqro itu Anda sekarang sudah lancar mengaji. Tahukah siapa Ia? Dia adalah K.H. As’ad Humam.

Memang tak banyak orang yang mengenal As’ad Humam.

Seperti dikutip blog majelis ribaathulmuhibbiin, As’ad Humam lahir 1933. Ia mengalami cacat fisik sejak remaja karena terkena penyakit pengapuran tulang belakang, dan harus menjalani perawatan di sebuah Rumah Sakit di Yogyakarta selama satu setengah tahun.

Penyakit inilah yang dikemudian hari membuat As’ad Humam tak mampu bergerak secara leluasa sepanjang hidupnya.

Hal ini dikarenakan sekujur tubuhnya mengejang dan sulit untuk dibungkukkan. Dalam keseharian, sholatnya pun harus dilakukan dengan duduk lurus, tanpa bisa melakukan posisi ruku’ ataupun sujud.

Bahkan untuk menengok pun harus membalikkan seluruh tubuhnya. Human juga bukan seorang akademisi atau kalangan terdidik lulusan Pesantren atau Sekolah Tinggi Islam, namun hanya lulusan kelas 2 Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta (Setingkat SMP).

Nama asli dari KH As’ad Humam hanyalah As’ad saja, sedangkan nama Humam yang diletakkan dibelakang adalah nama ayahnya, H Humam Siradj. KH As’ad Humam (alm) tinggal di Kampung Selokraman, Kotagede Yogyakarta.

Ia adalah anak kedua dari 7 bersaudara. Darah wiraswasta diwariskan benar oleh orang tua mereka, terbukti tak ada satu pun dari mereka yang menjadi Pegawai Negeri Sipil. Asad Humam sendiri berprofesi sebagai pedagang imitasi di pasar Bringharjo, kawasan Malioboro Yogyakarta.

Profesi ini mengantarnya berkenalan dengan KH Dachlan Salim Zarkasyi. Berawal dari silaturahim ini kemudian As’ad Humam mengenal metode Qiroati.

Dari Qiroati ini pula kemudian muncul gagasan-gagasan As’ad Humam untuk mengembangkannya supaya lebih mempermudah penerimaan metode ini bagi santri yang belajar Al Quran. Mulailah As’ad Humam bereksperimen, dan hasilnya kemudian ia catat, dan ia usulkan kepada  Dachlan Zarkasyi.

Namun gagasan-gagasan tersebut seringkali ditolak oleh KH Dachlan Salim Zarkasyi, terutama untuk dimasukkan dalam Qiroati, karena menurutnya Qiroati adalah inayah dari Allah sehingga tidak perlu ada perubahan. Hal inilah yang pada akhirnya menjadikan kedua tokoh “tidak akur”.

Sehingga pada akhirnya muncullah gagasan As’ad Humam dan Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (Team Tadarus “AMM”) Yogyakarta untuk menyusun sendiri dengan pengembangan penggunaan cara cepat belajar membaca Al-Qur’an melalui metode Iqro.

Sekarang buku Iqro itu masih beredar luas. Mungkin juga dirumah Anda masih terimpan buku itu. [sp/nabawia.com]

Senin, 06 Januari 2014

Kisah Buya HAMKA : " Maka Pecahlah Muhammadiyah ? "

Kaum Muda Muhammadiyah tengah menebak – nebak, apa yang terjadi jika kedua tokoh Muhammadiyah itu saling berhadapan. Siapa lebih tangguh? siapa lebih banyak pendukung, dan bagaimana sidang Tanwir nanti berjalan?

Kedua tokoh yang saling berhadapan itu ialah Buya Hamka dan K.H. Farid Ma’ruf. “kami yang muda–muda tidak sabar kedatangan sidang tanwir itu. Kami sangat antusias untuk menyaksikan kedua tokoh itu berdebat di atas mimbar. Tak sabar seperti menanti pertarungan antara Muhammad Ali melawan Joe Frazier,“ kenangan pak Djarnawi dalam tulisan menyambut 70 tahun Buya Hamka yang menjadi sumber tulisan ini.

Ketegangan memang terasa di kalangan Muhammadiyah. Terutama pada tingkat pimpinan. Bukan hanya tegang, Pak Djarnawi melukiskan, “pada tahun 1960, terjadi kehebohan di Muhammadiyah“. Penyebabanya, pak Moelyadi Djoyomartono diangkat Bung Karno sebagai menteri sosial. Padahal, hubungan Muhammadiyah dengan Bung Karno sedang Memburuk menyusul pembubaran Masyumi.

Terjadi Pro Kontra. Yang mendukung pak Moelyadi sebagai mensos adalah pak Farid Ma’ruf. Beliau punya alasan, semua untuk Muhammadiyah, bukan untuk diri sendiri. Yang tidak setuju menganggap, menerima jabatan itu berarti Muhammadiyah bertekuk lutut di kaki Soekarno.

Terjadi ketegangan yang merata dari Pusat sampai Daerah. Dalam suasana ini, lahirlah rumusan kepribadian Muhammadiyah. Ini muncuk dari kegelisahan Fakih Usman terjadi ketidakharmonisan saat itu. Puncaknya, Hamka menulis di harian Abadi berjudul, Maka pecahlah Muhammadiyah. Hamka menyatakan, ada dua golongan dalam Pimpinan Pusat yaitu golongan istana dan luar istana. Hamka menyebut Farid Ma’ruf sebagai golongan istana karena selalu berusaha membawa Muhammadiyah ke Istana. Pengaruh tulisan Hamka sangat besar. Sebab, beliau tokoh Muhammadiyah, mubalig kenamaan, dan pengarang terkenal. Apalagi harian abadi saat itu tercatat sebagai Koran besar yang beredar sampai kepelosok tanah air. Buntutnya, sebagian besar orang Muhammadiyah menyudutkan Farid Ma’ruf dan Moelyadi.

Dalam sidang tanwir di Gedoeng Muhammadiyah Yogyakarta, Hamka dipersilahkan tampil ke mimbar lebih dulu untuk menjelaskan tulisannya di harian abadi, sekaligus sebagai pertanggungjawaban. Semua menunggu. Hamka berdiri tenang. Wajah dan matanya berbicara lebih dulu dari pada bibirnya. Tiba – tiba, pelupuk mata Hamka penuh air mata.

Dengan suara tersendat, Hamka mengakui bahwa jika perasaannya tersentuh segera tangannya mencari pulpen lalu menulis. Semua yang di tulis di harian Abadi bermaksud baik, didorong cintanya pada Muhammadiyah. Namun, jika tulisan itu menyinggung perasaan Farid Ma’ruf yang sangat dicintainya, Hamka menyatakan sangat menyesal, mohon ampun dan maaf kepada Farid Ma’ruf.

Giliran Farid Ma’ruf tampil. Ia kemimbar dengan membawa map berisi berkas – berkas sebagai pertahanan karena mengira Hamka akan menyerangnya bertubi–tubi. Dia juga siap memberi serangan balasan. Di mimbar, Farid lama terdiam. Sikap Hamka sama sekali tidak diduganya. Tidak menyerang, malah minta ampun kepadanya di depan umum. Map yang dibawa akhirnya tidak dibuka.

Dengan suara datar dan wajah tenang. Farid menyatakan, kesediaan pak Moel menerima jabatan Mensos adalah dengan niat baik demi Muhammadiyah, yaitu membantu amal sosial Muhammadiyah. Menurut Farid, kondisi sekarang masih tetap diperlukan kerja sama Muhammadiyah dengan Pemerintah. Perbedaan antara dia dengan Hamka sama–sama didorong niat baik. Jika pendirianya dinyatakan salah dan dikhawatirkan membawa Muhammadiyah ke Istana, Farid berujar, “maka dengan ikhlas saya mengundurkan diri dari Pimpinan Pusat ….”

Belum lagi kalimat Farid selesai, Hamka berdiri dan mengacungkan tangan. “ Pimpinan!”, serunya, “Jangan saudara Farid mundur. Kita sangat membutuhkan dia. Saya, Hamka yang harus mundur….”.

Mendengar itu, Farid menghentikan pidatonya. Ia lalu turun menuju Hamka. Hamka pun menyongsong Farid. Keduanya lalu berpelukan dengan air mata bercucuran. Semua tertengun. Lalu menyusul ucapan hamdalah, tepuk tangan, dan ada yang bertakbir.

Persoalan selesai. Siaing tanwir terus berjalan membicarakan agenda lain. Setelah itu muncul berita di harian abadi berjudul, Muhammadiyah Tidak Pecah!.

Alangkah indahnya dinamika dalam Muhammadiyah yang dicontohkan para pendahulu. Sesunggunhnya, perbedaan pendapat selalu ada. Yang berbeda cara menyikapinya. Dulu, diselesaikan dengan sikap dewasa, dengan ikhlas hati, tidak mengedepankan harga diri.

Rukun dan damai dalam keindahan itu tidak sulit asal ada kemauan, begitu kata Al–Qur’an 
“Jika keduanya menghendaki kerukunan, Allah akan membukakan jalan kepada mereka”. (Qs. An-Nisa’[4] : 35

source : sangpencerah.com

Minggu, 06 Oktober 2013

H. Chaerul Umam, Sutradara Besar itu Telah Pergi

JAKARTA—Setelah beberapa waktu mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Sineas Senior, Sutradara Besar milik Muhammadiyah, H. Chaerul Umam dipanggil Allah SWT, Kamis (3/10) sore. Kepergian Sutradara Kenamaan Indonesia ini, mengagetkan banyak pihak, dan meninggalkan duka mendalam pada segenap Bangsa Indonesia. Saat ini, jenasah Almarhum, disemayamkan di aula Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, sebelum dishalatkan siang nanti sehabis Shalat Jumat di Masjid At Taqwa PP Muhammadiyah Jl Menteng raya 62 Jakarta.
Semasa hidupnya, almarhum dikenal sangat kuat memegang prinsip beragama pada setiap karyanya, sehingga sosok seperti Almarhum, dikenal terakhir melalui sebuah film besar dan laris milik novelis Habiburrachman El Shirazy  berjudul "Ketika Cinta Bertasbih" ( 2008). Film ini menjadi film terakhir almarhum, setelah sekian lama berkecimpung di dunia perfilman, dan dunia seni lainnya. Tak terhitung lagi berapa jumlah sinetron, teather, maupun produk seni panggung yang lain, karena hampir sepanjang hidupnya, mantan Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah ini dihabiskannya dengan berkarya.
Tidak seperti yang lain, almarhum adalah sosok unik. Selain nama besarnya sudah dikenal luas, almarhum tetap bisa berkarya dengan menjadi sutradara besar hingga usia sepuh dan hingga akhir hayatnya. Beberapa sinetron bahkan masih digarapnya tahun lalu, di RCTI, dan sehabis Lebaran tahun ini juga masih ada beberapa sinetron yang sudah akan dikerjakan untuk segera diproduksi.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, sehabis dari Vatikan Kamis (4/10) berencana membezuk almarhum, namun ajal  telah menjemput lebih awal kepada almarhum Chaerul Umam. Sehingga, semalam Din langsung menuju rumah duka.
“Kita kehilangan seniman Muslim terbesar saat ini,”ujar Din kepada wartawan yang mencegatnya.
Sementara itu, saat ini ratusan pelayat telah memenuhi aula PP Muhammadiyah untuk mendoakan dan menshalatkan jenasah almarhum. Hadir diantaranya Anis Matta, Hidayat Nur Wahid, Ustadz Yusuf Mansur, Putu Wijaya, Embi C. Noer, Taufik Ismail, Anwar Abbas, Adi Kurdi, Jenny Rachman, Igo Ilham, dan banyak seniman yang pernah bekerjasama dan bekerja dengan almarhum semasa hidup.
Selamat Jalan Sutradara Besar Indonesia!...(mst)

sumber : www.muhammadiyah.or.id

 

© 1435 H | 2014 M. Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur - Created by PIP IPM Jawa Timur